BAB XI
MUNCULNYA SEBUAH STUPA


Pada saat itu dihadapan Sang Buddha terdapat sebuah Stupa dari 7 Benda Berharga setinggi 500 yojana dengan panjang dan lebar 250 yojana, yang menjulang tinggi dan bertahta di Antariksha. Stupa itu dihias dengan segala macam benda-benda berharga dan dengan megahnya dipercantik dengan 5000 sandaran, 2000 tempat peristirahatan, serta panji-panji, dan bendera yang tak terhitung jumlahnya tergantungi untaian-untaian permata dengan ribuan koti genta-genta manikam yang digantungkan padanya. Pada setiap sisinya menebarkan bebauan dari harumnya kayu cendana tarnalapattra yang semerbak memenuhi dunia. Semua pita dan tirai-tirainya tersusun dan 7 benda berharga, emas, perak, lapis lazuli, batu-batu bulan, batu-batu mulia. inutiara, dan jasper yang menjulang tinggi mencapai istana-istana dari keempat raja kesurgan. Tiga puluh tiga dewa menaburi bunga-bunga rnandara surga untuk memuliakan Stupa Indah itu. Sedang dewa-dewa yang lain, naga-naga, yaksha, gandharva, asuras, garuda, kimnara. mahoraga, manusia dan yang bukan manusia, seluruh ribuan koti dari para mahluk ini semuanya memuliakan Stupa dengan segala macam bunga, bebauan, karangan-karangan bunga, pita-pita, tirai dan dendang lagu, memuja, memuliakan serta memujinya.

Kemudian dan tengah-tengah Stupa Indah itu terdengar suara lantang yang memuji dan berkata “Bagus sekali Bagus sekali Yang Maha Agung Sakyamuni ! Paduka mampu berkhotbah kepada persidangan agung tentang Sutra Bunga Hukum Yang Menakjubkan dari alam semesta dan kebijaksanaan yang agung, dan dengan Sutra itulah para Bodhisatva diberi petunjuk dan Sutra itu pulalah yang selalu dipelihara dan diperhatikan oleh para Buddha. Begitulah, begitulah, Yang Maha Agung Sakyamuni ! Semua yang Paduka sabdakan adalah benar adanya.”

Kemudian keempat golongan yang sedang memandang kearah Stupa Indah yang menjukng tinggi di antariksha serta setelah mendengar suara yang keluar dari Stupa itu, maka semuanya diiputi perasaan sukacita didalam Hukum dan mengagumi kejadian yang tidak pernah terdengar itu, kemudian mereka bangkit dari tempat duduknya serta dengan takzim mengatupkán tangannya dengan menarik diri kesamping. Sementara itu seorang Bodhisatva-Mahasatva yang bernama MAHAPRATIBANA mengetahui adanya kebimbangan dalam hati dari seluruh dunia para dewa, manusia, asura, dan lain-lainnya, maka berkatalah ia pada Sang Buddha dengan bertanya “Yang Maha Agung! Karena apakah maka Stupa ini menjulang tinggi ke angkasa dan dari tengah-tengahnya keluar suara ini ?“

Kemudian Sang Buddha menjelaskan Bodhisatva MAHAPRATIBANA dengan bersabda “Didalam Stupa inilah raga Sang Tathagata bersemayam. Dahulu kala, pada ribuan koti asamkhyeya yang tak terbatas, jauh dibumi sebelah timur sana terdapatlah sebuah kawasan yang bernama RATNAVISUDDHA. Dan didalam kawasan itu adalah seorang Buddha yang bergelar PRABHUTARATNA.

Ketika Buddha itu sedang menginjak jalan kebodhisatvaan, ia telah mengucapkan prasetya-agung dengan berkata “Setelah aku menjadi seorang Buddha dan setelah aku moksha, maka dimanapun juga jika didalam negeri di alam semesta ini terdapat suatu tempat dimana Sutra Bunga Hukum dikhotbahkan, maka disitulah Stupaku akan muncul dan menjulang tinggi agar aku dapat mendengarkan Sutra itu dan memberi kesaksian terhadapnya senta memujinya dengan berkata “Bagus sekali !“

Ketika Buddha itu telah menyelesaikan ceramahnya maka saat kemokshaannya pun hampir tiba dan ditengah-tengah para dewa, manusia dan satu kelompok besar, Ia rnewejang para bhiksunya dengan berkata “Siapapun juga yang sesudah kemokshaan nanti ingin memuliakan ragaku rnaka Ia harus mendirikan sebuah Stupa besar.” Dimanapun juga Sutra Bunga Hukum dikhotbahkan didalam dunia dan alam semesta ini, maka Buddha itu dengan daya gaib dari prasetyanya, akan menyebabkan Stupanya berisi seluruh raganya dan melompat kemuka serta memuji Sutra itu dengan berkata “Bagus sekali ! Bagus sekali!“

Wahai MAHAPRATIBANA ! Karena baru sekarang inilah Sang Tathagata PRABHUTARATNA itu mendengar Sutra Bunga Hukum ini dikhotbahkan sehingga Stupanya menjulang tinggi serta Ia memuji Sutra itu dengan berkata :“Bagus sekali Bagus sekali !“

Karena kekuasaan yang hebat dari Sang Tathagata itu, rnaka kemudian Sang Bodhisatva MAHAPRATIBANA berkata kepada Sang Buddha “Yang Maha Agung Kami dengan setulus hati ingin memandang raga Sang Buddha ini.”

Sang Buddha menyapa Bodhisatva-Mahasatva MAHAPRATIBANA demikian “Sang Buddha PRABHUTARATNA ini rnempunyai prasetya yang dalam dan agung, yaitu “Bila Stupaku muncul dihadapan para Buddha demi untuk mendengarkan Sutra Bunga Hukum itu dan seandainya dia ingin memperlihatkan ragaku kepada keempat golongan, maka biarlah para Buddha yang telah memancar dari Buddha itu dan mereka yang sedang mengkhotbahkan Hukum disegala penjuru dunia semuanya bersama-sama kembali dan berkumpul di satu tempat, dan sesudah itulah ragaku akan muncul. “ Oleh karenanya, wahai MAHAPRATIBANA, sekarang ini Aku harus mengumpulkan para Buddha yang telah keluar dariku serta mengumpulkan mereka yang sedang mengkhotbahkan Hukum diseluruh penjuru dunia.”

Sang MAHAPRATIBANA menjawab Sang Buddha: “Yang Maha Agung ! kami juga ingin melihat para Buddha yang telah keluar dari Yang Maha Agung serta ingin rnemuliakan mereka itu.”

Kernudian Sang Buddha memancarkan sinar cahaya dan lingkaran rambut putlh yang terdapat ditengah-tengah alis rnata Beliau, kemudian diarah barat terlihatlah semua para Buddha dalam 500 nibu koti nayuta dan kawasan-kawasan yang jumlahnya seperti pasir-pasir sungai Gangga. Kawasan-kawasan itu bertanah kristal, berpohon permata dan berhias kain-kain yang indah, dipenuhi ribuan koti dari para Bodhisatva yang tak terbatas jumlahnya dan tirai-tirai bertatah manikam membentang diatas mereka teringkupi untaian-untaian permata. Seluruh para Buddha di kawasan itu sedang mengkhotbahkan Hukum dengan suara-suara yang menggairahkan. Beribu-nibu koti dan para Bodhisatva yang tak terhitung jumlahnya juga terlihat memenuhi kawasan-kawasan itu dan sedang berkhotbah kepada orang banyak. Demikian jugalah keadaannya dikawasan selatan, barat dan utara, ditengah-tengah 4 penjuru, di daerah atas dan daerah bawah dan dimanapun jua, semuanya tersinari tanda cahaya dari lingkaran rambut putih.

Kemudian para Buddha disegala penjuru itu masing-masing menyapa kelornpok Bodhisatva-Bodhisatvanya dengan berkata : “Putera-putera yang baik Kita sekarang harus pergi menghadap Sang Buddha Sakyamuni di dunia sana dan harus pergi pula untuk memuliakan Stupa lndah dan Sang Tathagata PRABHUTARATNA”.

Kemudian dunia saha seketika itu juga menjadi cemerlang dengan lapis lazuli sebagai buminya, terhiasi pepohonan permata dengan pita-pita emas membatasi 8 daerahnya. Disitu tiada satupun pedusunan kecil, perkampungan, desa, kota, lautan-lautan besar, sungai-sungai besar, pegunungan, sungai-sungai kecil, hutan-hutan dan semak-semak. Semuanya terlingkupi asap dupa yang paling harum dan tanahnya tertaburi bungabunga mandarva dengan lapisan jaring dan tirai serta tergantungi berbagai jenis genta-genta yang mempersona.

Disana hanya berdiam kerumunan orang-orang yang dikumpulkan karena para dewa dan manusia telah dipindahkan ke negeri lain. Kemudian Buddha-Buddha itu yang masing-masing membawa seorang Bodhisatva agung sebagai pembantunya, telah tiba di dunia saha dan masing-masing pergi kekaki sebuah pohon pemmata.

Setiap pepohonan permata itu tingginya 500 yojana yang secara bergantian terhias dengan dedahanan, dedaunan, bebungaan dan buah-buahan. Dibawah pepohonan permata itu terdapat tahta-tahta singa setinggi 5 yojana yang juga terhiasi dengan manikammanikam yang asri dan masing-masing dari para Buddha itu duduk bersila diatas singgasana-singgasana singa ini. Demikianlah keadaan di sekelilingnya, seluruh jutaan dunia terpenuhi oleh para Buddha yang meskipun baru datang dari satu titik batas saja, raga-raga yang telah keluar dari Sang Sakyamuni Buddha belumlah selesai berdatangan.

Kemudian Sang Sakyamuni Buddha yang ingin membuat ruangan bagi para Buddha yang telah keluar dari dirinya sendiri, maka diciptakanlah 200 ribu koti dari nayuta kawasan-kawasan disetiap penjuru dunia yang seluruhnya sangatlah indah, tanpa neraka, tanpa jiwa yang haus, hewan maupun asura dan memindahkan para dewa dan manusia-manusianya ke negeri-negeri yang lain.

Kawasan-kawasan yang baru saja diciptakan tadi juga berbumi lapis lazuli, serta dipercantik dengan pepohonan permata setinggi 500 yojana yang secara bergantian dihiasi dengan dedahanan, dedaunan, bebungaan dan buah-buahan. Dibawah setiap pepohonan itu terdapat sebuah tahta singa bertatah permata setinggi 5 yojana, dipermolek dengan segala jenis batu-batu manikam. Dikawasan itu tiada satupun lautan besar, sungai besar, ataupun Gunung Mucilinda, Gunung Maha Mucilinda, G.Lingkaran Besi, G.Lingkaran Besi Besar, G. Sumeru dan lain-lain, dan seluruh gunung-gunung besar selalu membentuk satu tanah Buddha. Tanah benlapis permatanya sangat rata dan halus, tenda-tenda berhias manikam terbentang dimana-mana tergantungi pita-pita dan tirai, bebungaan surga yang indah menyelimuti bumi dimanapun juga, sementara dedupaan yang paling harum sedang dibakar.

Sang Sakyaniuni Buddha menciptakan 200 ribu koti dari nayuta kawasan-kawasan disetiap 8 penjuru agar para Buddha yang baru saja datang dapat duduk, yang kawasan-kawasan itu seluruhnya begitu indah tanpa adanya neraka, jiwa yang haus, binatang dan asura serta rnemindahkan para dewa dan manusianya ke negeri-negeri yang lain.

Kawasan yang diciptakan itu juga berbumi lapis lazuli dan dihiasi pepohonan permata setinggi 500 yojana yang secara bergantian dipercantik dengan dedahanan, dedaunan, bebungaan dan buah-buahan. Disetiap pepohonan itu dibawahnya tendapat sebuah tahta singa setinggi 5 yojana yang terhiasi permata besar. Disana tiada satupun lautan besar, sungai besar, maupun Gunung Mucinda, G. Maha-Mucinda, G. Lingkaran Besi, G. Lingkaran Besi Besar, G. Sumeru dan lain-lainnya, dan pegunungan-pegunungan besar inilah yang selalu membentuk satu tanah Buddha. Bumi berlapis permatanya begitu rata dan halus, tentu berhias manikam membentang dimana-mana tergantungi pita dan tirai, serta bebungaan sunga yang asri menyelimuti bumi dimanapun jua, sementara dupa yang paling harum sedang dibakar.

Pada saat itu disebelah timur, raga-raga yang berasal dan Sang Sakyamuni yaitu para Buddha yang sedang mengkhotbahkan Hukum didalam ratusan ribu koti dari nayuta kawasan sebelah timur yang jumlahnya seperti pasir sungai Gangga, telah datang berkumpul. Begitulah secara bergantian seluruh Buddha-Buddha dari 10 penjuru semuanya datang dan berkumpul serta mengambil tempat duduknya masing—masing dalam 8 arah. Kemudian setiap penjuru terpenuhi oleh para Buddha Tathagata dan 400 ribu koti kawasan-kawasannya.

Dan sesudah itu semua para Buddha yang masing-masing berada dibawah sebuah pohon permata dan duduk diatas singgasana singa, mengutus pembantu-pernbantunya untuk bertanya pada Sang Sakyamuni Buddha. Masing-masing dari para Buddha itu mempersembahkan dua genggam penuh bunga-bunga permata dan berkata kepada para pembantunya “Putera—putera yang baik Kalian pergi dan kunjungilah Gunung Grdhrakuta tempat bersemayamnya Sang Sakyamuni Buddha dan sesuai dengan pesan kami, maka katakanlah “Apakah Paduka sehat dan baik-baik saja ? Apakah bayu Paduka dalam keadaan sempurna ? Dan apakah seluruh kelompok para Bodhisatva dan sravaka Paduka dalarn kedamaian ?“ Taburilah Sang Buddha dengan takzim dengan bebungaan permata ini dan berkatalah demikian : “Sedemikianlah seorang Buddha bersama-sama berharap agar Stupa Indah ini dibuka.” Seluruh para Buddha mengutus pembantu-pembantunya pula dengan cara yang sama.

Kemudian Sang Sakyamuni Buddha yang melihat para Buddha yang telah keluar dariNya itu berkumpul bersama-sama dan masing-rnasing duduk diatas tahta singanya, serta setelah mendengar para Buddha itu secara serempak menginginkan agar Stupa lndah itu dibuka, maka seketika itu juga bangkit dari singgasanaNya dan menjulang di angkasa.

Seluruh keempat kelompok itu berdiri dengan mengatupkan tangannya dan dengan penuh perhatian memandang kearah Sang Buddha. Kemudian Sang Sakyamuni Buddha dengan jari tangan kananNya membuka pintu Stupa dari 7 benda berharga itu dan terdengarlah bunyi yang keras seperti bunyi deritnya engsel dari sebuah pintu gerbang kota yang besar ketika dibuka.

Kemudian seluruh kelompok melihat Sang Tathagata PRABHUTARATNA duduk diatas tahta singa didalam Stupa Agung itu dengan seluruh raganya yang tenang seolah-olah ia sedang bersemedi. Dan mereka mendengar katanya “Bagus sekali ! Bagus sekali Sang Sakyamuni Buddha ! Segera khotbahkanlah Sutra Bunga Hukum ini. Aku telah datang kemari demi untuk mendengarkan Sutra ini.”

Kemudian keempat kelompok setelah melihat Buddha yang telah wafat dan telah moksha selama sekian ribu koti kalpa yang tak tenbatas itu mengucapkan kata-kata seperti ini, semuanya memuji keajaiban yang belum pernah teralami ini serta menaburkan tumpukan-tumpukan bebungaan permata surga diatas Sang Buddha PRABHUTARATNA dan Sang Sakyamuni Buddha.

Kemudian Sang Buddha PRABHUTARATNA yang berada didalam Stupa Agung itu memberikan separo singgasananya kepada Sang Sakyamuni Buddha dengan berkata “Wahai Sang Sakyamuni Buddha !” Duduklah disini Kemudian Sang Sakyamuni Buddha memasuki Stupa dan duduk bersila diatas singgasana yang separo itu. Dan pertemuan besar yang rnelihat kedua Tathagata duduk bersila diatas singgasana singa didalam Stupa dari 7 Benda Berharga itu, masing-masing membayangkan demikian, “Kedua Buddha itu sedang duduk ditempat yang begitu tinggi dan jauh. Mungkinkah kedua Tathagata itu dengan kekuasaanNya yang tak terbayangkan akan bersuka hati mengangkat kediaman kita keatas angkasa.”

Seketika itu juga, Sang Sakyamuni Buddha dengan kekuatan ghaib beliau menerima seluruh pertemuan agung itu diatas antariksha, dan dengan suara yang agung menyapa keempat kelompok itu seluruhnya bersabda “Siapakah yang mampu menyiarkan Sutra Bunga Hukum Yang Menakjubkan didalam dunia saha ini ? Sekaranglah waktunya, Sang Tathagata tidak akan lama disini, Beliau harus kembali ke nirwana, Sang Buddha ingin mewariskan Sutra Bunga Hukum Yang Menakjubkan ini sehingga Sutra ini akan ada selamanya.”

Pada saat itu Yang Maha Agung ingin untuk memaklumkan maksud ini kembali dan bersabdalah Beliau dalarn syair

“Tuhan Yang Maha Mulia,
Meskipun sudah lama moksha
Dan didalam Stupa Agungnya,
Telah datang untuk mendengarkan Hukum.
Bagaimana mungkin seseorang tidak menjadi
Bersemangat demi Hukum itu?
Buddha ini telah lama moksha
Selama berkalpa-kalpa yang tak terhitung,
Namun dari tempat ke tempat ia mendengar Hukum,
Karena keanehannya.

Buddha itu telah berprasetya,
“Sesudah kemokshaanku,
Aku akan pergi kemanapun jua,
Selamanya untuk rnendengar Hukum ini.”
Dan para Buddha yang tak terhitung,
Berasal dari ragaKu,
Sejurnlah pasir-pasir sungai Gangga,
Telah datang untuk mendengarkan Hukum
Dan melihat Sang Tathagata yang telah moksha itu
Sang PRABHUTARATNA.
Masing-masing, dengan meninggalkan tanahnya yang indah
Dan kelompok para pengikutnya,
Para dewa, manusia dan para naga,
Dan segala persembahan-persem bahan mereka,
Telah datang kemari ketempat ini
Agar Hukum itu dapat tinggal lama.

Untuk memberi tempat duduk kepada para Buddha ini’
Dengan kekuasaanKu yang tak tenbayangkan,
Aku telah memindahkan para mahluk yang tak terbatas
Dan membersihkan kawasanKu.
Para Buddha, satu persatu,
Telah datang dibawah pepohonan permata,
Seperti bunga-bunga teratai yang menghiasi
Sebuah kolam yang dingin dan bening.
Dibawah pepohonan pemmata itu,
Diatas tahta-tahta singa,
Para Buddha duduk,
Cemerlang dan megah.
Bagai, dikegelapan malam,
Obor-obor besar berkelip-kelip.
Dan mereka tersebar harumnya keghaiban
Menebar jáuh diseluruh negeri
Semua mahluk menjadi wangi karenanya
Dan mengisi dirinya sendiri dengan kegembiraan;
Bagaikan angin besar
Menghernbus semak-semak yang harum.
Dengan kebijaksanaan ini
Aku membuat Hukum itu tinggal lama.
Kepada pertemuan Agung ini bersabda
“Sesudah kemokshaanKu,
Siapapun juga yang dapat menjaga dan memelihara,
Membaca dan menghafalkan Sutra ini,
Biarlah dia dihadapan Sang Buddha sendiri,
Mengucapkan prasetyanya!
Sang Buddha PRABHUTARATNA,
Telah moksha sekian lama,
Karena prasetya agungnya,
Akan mengucapkan suara Buddha.

Biarlah Sang Tathagata PRABHUTARATNA dan juga Aku sendiri
Serta kumpulan para Buddha yang berasal dari badan ku
Mengetahui keputusan ini.
Dari seluruh putera-putera BuddhaKu,
Biarlah ia yang mampu melindungi Hukum,
Mengucapkan prasetya agungnya
Untuk membuat Hukum itu hidup terus!
Ia yang dapat melindungi Hukum dan Sutra ini
Akan layak mendapatkan penghormatan
Ku dan Sang PRABHUTARATNA,

Sang Buddha PRABHUTARATNA ini,
Yang tinggal didalam Stupa Agung,
Dan selalu berkelana kemanapun jua, hanya dari Sutra ini.
Beliau terlebih-lebih lagi akan menghormati
Seluruh para Buddha yang berasal dari ragaku,
Yang menghiasi dan membuat rnegah seluruh dunia.
Jika ia mengkhotbahkan Sutra ini,
Maka ia layak melihat Aku,
Dan Sang Tathagata PRABHUTARATNA,
Serta para Buddha yang berasal dariKu.

Wahai semua putera-puteraKu yang baik
Biarlah semua orang memenungkannya dengan teliti
lnilah suatu tugas yang berat,
Yang membutuhkan pengambilan sumpah yang agung
Semua Sutra-sutra yang lain,
Sejumlah pàsir-pasir sungai Gangga,
Meskipun seseorang mengajarkannya,
Sulitnya masih juga tak terbayangkan.

Seandainya seseorang mengangkat Gunung Sumeru
Dan melemparkannya kenegeri lain
Dari tanah-tanah Buddha yang tak terhitung
jumlahnva, Tidak pula akan sulit.

Seandainya seseorang dengan ujung jari kakinya
Memindahkan sejuta dunia
Dan melemparkannya jauh-jauh kenegeri lain,
Itu pula tidak sulit.

Seandainya seseorang berdiri di Puncak Seluruh mahluk.
Mengajarkan kepada semua urnat
Sutra-sutra lain yang tak terhitung jumlahnya,
Hal itu iuga tidak sulit.

Tetapi jika seseorang sesudah kemokshaan Sang Buddha nanti.
Ditengah-tengah dunia angkara.
Mampu mengkhotbahkan Sutra ini,
Inilah benar-benar berat.

Meskipun terdapat seseorang yang
Menggengam langit didalam tangannya
Dan berkelana kian kemari dengan membawa itu,
Hal ini juga tidak sulit.

Jika seseorang mengambil bumi yang besar,
Meletakkannya diatas ibu jari kakinya
Dan naik ke surga kaBrahman,
Hal itu juga tidak sukar.
Tetapi sesudah kemokshaan Sang Buddha,
Ditengah-tengah dunia angkara,
Membaca Sutra ini dengan keras meskipun cuma sekejap,
Hal itu benar-benar sulit.

Meskipun seseorang di ujung lautan api,
Membawa beban jerami kering,
dan memasukinya tanpa hangus sedikitpun,
Hal itu masih juga tidak sulit.
Tetapi sesudah kemokshaanKu nanti,
Jika seseorang memelihara Sutra ini
Dan memaklumkannya meskipun hanya seorang saja,
Itulah benar-benar sukar.

Seandainya seseorang menjaga 84 ribu
Bagian dari Hukum itu dan 12 Bagian Sutra,
Mengajarkannya kepada yang lain,
Dan menyebabkan mereka yang mendengarnya
Memperoleh 6 kemampuan yang tak terbayangkan,
Meskipun ia memiliki kekuatan seperti ini,
Hal itu masih tidak sulit pula.
Tetapi sesudah kemokshaanKu nanti, jika seseorang
Mendengar dan menerima Sutra ini dan meresapi maknanya,
Itulah baru benar-henar sukar.

Seandainya seseorang dapat mengkhotbahkan Hukum
Dan membuat ribuan koti,
Mahluk-mahluk hidup yang tak terhitung jumlahnya
Seperti pasir-pasir sungai Gangga, menjadi arhat
Dan sempurna dalam keenam kekuatan yang tak terbayangkan,
Bahkan menganugerahkan jasa seperti ini, masih tetap tidak akan sulit.
Tetapi sesudah kemokshaanKu nanti,
Jika seseorang mampu memelihara Sutra semacam ini,
Hal itu barulah benar-benar sulit

Aku, karena jalan keBuddhaan,
Didalam negeri-negeri yang tak terhitung jumlahnya
Dari awal sampai saat ini,
Telah mengkhotbahkan banyak Sutra secara luas;
Tetapi diantara seluruh sutra-sutra itu
Sutra inilah yang paling utama, dan
Jika seseorang mampu memeliharanya,
Maka ia memelihara Raga Sang Buddha.

Wahai seluruh putera-puteraKu yang baik!
Biarlah dia, yang sesudah kemokshaanKu,
Mampu menerima dan menjaganya,
Membaca dan menghafalkan Sutra ini,
Sekarang dihadapan Sang Buddha,
Mengucapkan prasetyanya sendiri! Sutra ini begitu sulit dipelihara,

Seandainya seseorang menjaganya sementara waktu,
Aku akan bergembira,
Dan begitu juga para Buddha.
Seorang yang seperti ini
Akan dipuji oleh para Buddha;
Orang seperti itu adalah berani;
Orang seperti itu adalah bersemangat;
Orang seperti itu dinamakan Pemelihara Hukum
Dan pelaksana Dhuta;
Dengan segera akan mencapai
Jalan keBuddhaan yang agung.

Dia yang didalam generasi mendatang,
Dapat membaca dan menjaga Sutra ini,
Adalah sungguh-sungguh putera Sang Buddha
Berdiam didalam tingkat kebaikan suci

Sesudah kemokshaan Sang Buddha,
Dia yang dapat menjelaskan maknanya,
Akan menjadi mata dunia bagi para dewa dan manusia.

Dia yang didalam ujung akhir masa ketakutan,
Dapat mengkhotbahkannya rneskipun hanya sebentar,
Oleh para dewa dan manusia akan dimuliakan.